Jakarta diprediksi bakalan tenggelam. Perkiraan tersebut sudah sering dilontarkan, bahkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden pun pernah mengungkapkannya. Pada kenyataannya, permukaan Jakarta memang lambat laun mulai menurun.

Prediksi Jakarta akan tenggelam dalam beberapa puluh tahun ke depan bukanlah isapan jempol belaka. Sebuah masjid yang dulu berdiri kokoh di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara menjadi saksi bisu bagaimana wilayah Ibu Kota Jakarta perlahan tenggelam akibat naiknya level air laut dan turunnya permukaan tanah. Ialah Masjid Wal Adhuna di Jakarta Utara yang selama 12 tahun belakangan ini secara perlahan tenggelam dan kemudian menjadi bagian abadi dari laut utara Jakarta.

Masjid ini berlokasi tepat di balik tanggul besar penahan air laut di Pelabuhan Sunda Kelapa. Air sudah menggenangi separuh dari bangunan masjid. Cat putih pada dinding sudah mengelupas digantikan lumut lumut yang tumbuh subur. Seng pada atap masjid juga sudah hancur. Berbagai jenis sampah yang terbawa arus tersangkut di sisi sisi masjid.

Melihat kondisi demikian, siapa sangka bahwa dahulunya Masjid Wal Adhuna merupakan salah satu pusat ibadah di kawasan Sunda Kelapa. Dahulu, ratusan jamaah rutin menunaikan ibadah shalat lima waktu di sana. Terlebih di momen shalat Jumat dan Hari Raya. Safrizal, seorang petugas keamanan yang sudah bekerja di kawasan tersebut sejak 1998, mengatakan bahwa masjid itu sudah ada di sana sejak ia ditugaskan.

Mulanya, Wal Adhuna dibangun sebagai tempat ibadah bagi pekerja di sekitar pelabuhan. Lambat laun, warga sekitar juga mulai menjadi jamaah masjid tersebut. “Karena cukup aktif akhirnya warga dilibatkan sebagai pengurus masjid. Jadi jemaahnya ada yang dari pelabuhan dan ada yang dari warga,” tutur Safrizal, Kamis (6/2/2020) lalu. Masjid Wal Adhuna menjadi sangat ramai di bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri serta Idul Adha, Safrizal menambahkan.

Banjir rob besar yang terjadi di daerah tersebut membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun tanggul yang tingginya kurang lebih lima meter di kawasan Sunda Kelapa. Tanggul itu dibangun di belakang masjid, menutup akses menuju rumah ibadah tersebut. Ancaman Jakarta tenggelam Peneliti geodesi dan geomatika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas baru baru ini menjelaskan bahwa sekitar 9.000 hektare lahan Jakarta sudah berada di bawah permukaan laut.

Namun, lahan tersebut tetap kering saat ini karena adanya tanggul laut dan tanggul sungai. Pada tahun 2021 ini, sebanyak 14 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah laut. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 28 persen pada 2050. Fenomena ini disebabkan oleh kombinasi dua faktor. Faktor utama adalah naiknya level air laut akibat pemanasan global yang melelehkan gunung es di kutub utara serta selatan.

Merujuk data satelit yang dikumpulkan ITB selama 20 tahun, kenaikan permukaan air laut di perairan Indonesia diperkiraan sekitar 3 8 mm per tahun. Sementara itu, faktor kedua adalah turunnya permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan. Beberapa tempat di Jakarta, seperti Muara Baru, sudah turun sejauh 1 meter.

Perlu intervensi dari pemerintah agar ancaman Jakarta tenggelam bisa diatasi, jelas Heri. “Jika usaha kita tidak maksimal, maka pada tahun 2050 penurunannya akan mencapai 4 meter,” imbuhnya, dilansir dari itb.ac.id. Peringatan Jakarta tenggelam Peringatan Jakarta tenggelam sudah banyak disampaikan oleh berbagai pihak dari dalam dan luar negeri.

Pada pertengahan tahun 2021, Presiden Amerika Serikat Joe Biden memprediksi DKI Jakarta akan tenggelam 10 tahun lagi. Disebutkan bahwa Jakarta akan tenggelam karena adanya ancaman penurunan tanah dan naiknya air laut dampak perubahan iklim. B Adan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, penyebab Jakarta tenggelam bukan hanya kenaikan permukaan air laut tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah penurunan permukaan tanah. Dari hasil analisis data satelit terkini menunjukkan tidak hanya Jakarta tetapi sepanjang kawasan pesisir pantura mengalami penurunan muka tanah yang drastis.

BRIN memprediksi di tahun 2050, 25% kawasan Jakarta akan tenggelam dan terendam air laut meski tidak sampai ke Monas.