Tahun Depan, Pasar Properti Masih Bergantung Kebijakan Insentif Pemerintah

Pertumbuhan pasar properti pada tahun depan dinilai masih akan bergantung dengan berbagai insentif dari pemerintah, seiring daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan, tren properti pada 2022 masih tetap bergantung kepada kebijakan pemerintah, berupa insentif pajak dan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). “Pengembang juga bisa berstrategi untuk meningkatkan penjualan dengan berfokus pada ketersediaan sarana publik di sekitar hunian, serta berbagai fitur ramah lingkungan pada hunian yang mereka tawarkan kepada konsumen,” kata Marine secara virtual, Kamis (9/12/2021).

Menurutnya, sektor properti harus melakukan adaptasi dan inovasi agar industri bisa lebih cepat pulih pada 2022 mengingat sektor properti cukup penting bagi pemulihan ekonomi nasional. "Industri properti memiliki multiplier effect terhadap 174 sektor lainnya dan 350 jenis industri terkait skala kecil, sekaligus juga menyerap lebih dari 30 juta tenaga kerja," papar Marine. Marine menjelaskan, stimulus berupa uang muka 0 persen dan relaksasi PPN properti yang diluncurkan pemerintah sejak Maret 2021, terbukti memberi pengaruh signifikan terhadap perputaran ekonomi di sektor properti.

"Sepanjang tiga bulan pertama, stimulus ini diklaim meningkatkan penjualan properti pada kisaran 10 hingga 20 persen, baik untuk masyarakat berpenghasilan rendah menengah, maupun tinggi," tuturnya. Melihat efek positif yang dihasilkan, kata Marine, kedua stimulus tersebut diperpanjang oleh pemerintah, di mana insentif pembebasan PPN properti hingga Desember 2021 dan uang muka 0 persen sampai Desember 2022. "Perpanjangan stimulus ini diyakini dapat menjaga kondisi pasar properti 2022 tetap stabil," ucapnya.

Marine menyebut, selain stimulus pemerintah, proyek infrastruktur transportasi juga turut menggenjot sektor properti dari sisi harga, khususnya jalan tol baru yang menghubungkan kawasan hunian dengan jalur tol lingkar luar Jakarta. "Sebagai contoh Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang secara berturut turut mencatat kenaikan harga tahunan sebesar 17,04 persen, 9,21 persen, dan 13,55 persen dimana sepanjang 2021, Pemerintah meresmikan tiga ruas jalan tol di wilayah tersebut, yaitu Cengkareng Kunciran, Kunciran Serpong, dan Serpong Pamulang," tutur Marine.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About Us

Sed gravida lorem eget neque facilisis, sed fringilla nisl eleifend. Nunc finibus pellentesque nisi, at is ipsum ultricies et. Proin at est accumsan tellus.

Featured Posts